Jumat, 27 Maret 2015

jurnal PI Pengaruh Kualitas, Harga, Citra Merek dan Desain Produk Terhadap Keputusan Pembelian Mobil Jenis MPV Merek Toyota Avanza Di Kota Depok

Pengaruh Kualitas, Harga, Citra Merek dan Desain Produk Terhadap Keputusan Pembelian Mobil Jenis MPV Merek Toyota Avanza Di Kota Depok

            PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Di jaman modern seperti sekarang ini, manusia semakin berkembang pesat. Banyaknya aktivitas yang mereka lakukan, mengharuskan mereka memiliki alat pendukung yang dapat memudahkan dan menyelesaikan pekerjaan mereka secara cepat, seperti transportasi. Menurut Gunawan (2014:1), transportasi dapat didefinisikan sebagai suatu usaha dan kegiatan mengangkut atau membawa barang dan / atau penumpang dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Salah satu sarana transportasi tersebut adalah mobil. Mobil memiliki berbagai jenis, salah satu jenis mobil yang diminati konsumen yaitu mobil MPV(Multi Purpose Vehicle). Berbagai jenis mobil MPV membanjiri pasar mobil nasional, seperti Daihatsu (Xenia), Suzuki (APV), Honda (Odyssey dan stream), Toyota (Avanza dan Innova), Nissan (Grand Livina), Isuzu (Phanter) dan lain sebagainya. Kendaraan dengan konsep MPV paling digemari oleh masyarakat Indonesia, hal ini tercermin dari penjualan kendaraan jenis ini yang menguasai pasar mobil nasional. Perkembangan pesat industri otomotif di Indonesia membuat tingkat persaingannya menjadi semakin ketat, khususnya pada industri mobil. Para produsen mobil terus melakukan inovasi terhadap produknya. Hal ini terlihat dari semakin beraneka ragamnya merek dan jenis mobil di Indonesia dengan harga yang bersaing.
Dalam pemilihan mobil, tentu saja masyarakat akan memilih mobil dengan kualitas produk yang baik. Menurut Assauri (2013:211), Kualitas produk merupakan hal yang perlu mendapat perhatian utama dari perusahaan/produsen, mengingat kualitas suatu produk berkaitan erat dengan masalah kepuasan konsumen, yang merupakan tujuan dari kegiatan pemasaran yang dilakukan perusahaan.
Dengan persaingan harga yang sangat ketat di dunia otomotif, Toyota mengeluarkan harga yang cukup terjangkau bagi masyarakat. Menurut Kotler dan Keller (2009), menyatakan bahwa harga adalah elemen dalam bauran pemarasan yang tidak saja menentukan profitabilitas tetapi juga sebagai sinyal untuk mengkomunikasikan proporsi nilai suatu produk.
Toyota adalah salah satu industri mobil dari Jepang yang menjadi salah satu pesaing industry mobil lainnya di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari total penjualan selama bulan April 2014 berikut :
Tabel 1.1
Total Penjual Mobil Per Merek pada bulan Desember 2014
No
Mobil
Unit
1
Toyota Avanza
112.752
2
Honda Mobilio
59.379
3
Toyota Agya
46.399
4
Toyota Kijang Inova
40.805
5
Suzuki Ertiga
32.916

Dari Tabel tersebut bahwa Toyota merek Avanza masih menjadi mobil yang terlaris di Indonesia dengan perolehan penjualan sebanyak 112.752 unit pada bulan Desember 2014 yang mengungguli mobil Merek Honda Mobilio yang perolehan penjual sebanyak 59.379 unit. Toyota sendiri dari tahun ke tahun berusaha untuk menguasai pangsa pasar di Indonesia. Mobil tipe MPV merek Avanza menjadi salah satu daya tarik masyarakat. Karena itu banyak perubahan di tiap tahunnya agar masyarakat selalu tertarik pada Toyota Avanza.
Dari pembahasan diatas dan dari data tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ilmiah dengan judul “Pengaruh Kualitas, Harga, Citra merek dan Desain Produk Terhadap Keputusan Pembelian Mobil Jenis MPV Merek Toyota Avanza Di Kota Depok”.
1.2       Rumusan Masalah
Dari pembahasan di atas, peneliti menemukan rumusan masalah yaitu :
1.      Bagaimana pengaruh Kualitas, Harga, Citra Merek dan Desain Produk terhadap keputusan pembelian secara simultan?
2.      Bagaimana pengaruh Kualitas, Harga, Citra Merek dan Desain Produk terhadap keputusan pembelian secara parsial?
1.3       Batasan Masalah
            Untuk pelaksanaan penelitian ini, peneliti membai masalahnya sebagai berikut:
1.      Yang berkaitan dengan variable kualitas, harga, citra merek dan desain produk terhadap keputusan pembelian mobil MPV merek Toyota Avanza.
2.      Responden dalam penelitian ini yaitu masyarakat pengguna mobil MPV merek Toyota Avanza di Kota Depok.
1.4       Tujuan Penelitian
            Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui apakah Kualitas, Harga, Citra Merek dan Desain Produk berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian Mobil jenis MPV Merek Toyota Avanza di Kota Depok secara simultan.
2.      Untuk mengetahui apakah Kualitas, Harga, Citra Merek dan Desain Produk berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian Mobil jenis MPV Merek Toyota Avanza di Kota Depok secara parsial.
1.5       Manfaat Penelitian
1.      Bagi Penulis
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan kesempatan untuk mengimplementasikan teori kualitas, harga, citra merek, desain produk dan keputusan pembelian.
2.      Bagi Perusahaan
Diharapkan dari hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi perusahaan untuk mengetahui hal apa yang mempengaruhi keputusan konsumen.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1       Pemasaran
            Pemasaran adalah salah satu kegiatan pokok yang perlu dilakukan oleh perusahaan baik itu perusahaan barang atau jasa dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya. kegiatan pemasaran dapat diartikan sebagai kegiatan manusia yang berlangsung dalam kaitannya dengan pasar.
            Menurut Alma (2007), pemasaran adalah penekanan pada analisis struktur pasar, orientasi dan dukungan pelanggan, serta memposisikan perusahaan dalam mengawasi rantai nilai. Sedangkan menurut Graw (2008), pemasaran adalah suatu aktivitas yang bertujuan mencapai sasaran perusahaan, dilakukan dengan cara mengantisipasi kebutuhan pelanggan atau klien serta mengarahkan aliran barang dan jasa yang memenuhi kebutuhan pelanggan atau klien dari produsen.
            Konsep pemasaran adalah suatu konsep dan cara dasar yang di terapkan dalam melakukan strategi manajemen pemasaran produk atau jasa pada sebuah organisasi ataupun perusahaan. Menurut Assauri (2013), konsep pemasaran adalah suatu falsafah manajemen dalam bidang pemasaran yang berorientasi kepada kebutuhan dan keinginan konsumen dengan didukung oleh kegiatan pemasaran terpadu yang diarahkan untuk memberikan kepuasan konsumen sebagai kunci keberhasilan organisasi dalam usahanya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konsep pemasaran,  tugas pokok perusahaan adalah menentukan kebutuhan dan keinginan pasar, dan selanjutnya memenuhii kebutuhan dan keinginan tersebut sehingga dicapai tingkat kepuasan langganan yang melebihi dari kepuasan yang diberikan oleh para saingan.
            Bauran pemasaran merupakan suatu alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran dalam memenuhi target pasarnya. Menurut Faud (2006), bauran pemasaran adalah kegiatan pemasaran yang terpadu dan saling menunjang satu sama lain. Keberhasilan perusahaan di bidang pemasaran didukung oleh keberhasilan dalam memilih produk yang tepat, harga yang layak, saluran distribusi yang baik dan promosi yang efektif. Empat kebijaksanaan pemasaran yang sering disebut konsep 4P atau bauran pemasaran tersebut adalah Produk, Harga, Saluran Distribusi dan Promosi. Untuk mencapai tujuan pemasaran, keempat unsur tersebut harus saling mendukung, sehingga keberhasilan di bidang pemasaran diharapkan diikuti oleh kepuasan konsumen.
2.2.      Kualitas
            Dalam pemasaran, perusahaan harus memperhatikan kualitas produknya. Kualitas produk merupakan pemahaman bahwa produk yang mereka tawarkan mempunyai nilai jual lebih yang tidak dimiliki oleh produk pesaingnya. Menurut Kotler (2009), Kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Ini jelas merupakan definisi yang berpusat pada pelanggan. Perusahaan yang memuaskan sebagaian besar kebutuhan pelanggannya sepanjang waktu disebut perusahaan berkualitas, tetapi kita harus membedakan antara kesesuaian kualitas dan tingkat kualitas. Sedangkan menurut Pahan (2006), kualitas didefinisikan sebagai gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan hubungan yang ditentukan atau tersirat. Dalam beberapa sumber, kualitas mengacu pada kesesuaian penggunaan atau pemenuhan harapan pelanggan atau kepuasan pelanggan.
2.3       Harga
            Harga merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam pemasaran suatu produk. Harga dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menilai suatu barang yang di tawarkan. Menurut Swastha (2005), harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk apabila memungkinkan) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya. Sedangkan menurut Carthy (2008), harga adalah sesuatu yang harus diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan keunggulan yang ditawarkan oleh bauran pemasaran perusahaan. Harga semata-mata tergantung pada kebijakan perusahaan, tetapi tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai hal. Murah atau mahalnya harga suatu produk sangat relative sifatnya. Untuk mengatakannya perlu terlebih dahulu dibandingkan dengan harga produk serupa yang diproduksi atau dijual oleh perusahaan lain. Perusahaan perlu memonitor harga yang ditetapkan oleh para pesaing agar harga yang ditentukan oleh perusahaan tidak terlalu tinggi atau sebaliknya, sehingga harga yang ditawarkan dapat menimbulkan keinginan konsumen untuk melakukan pembelian. Harga dengan keputusan pembelian mempunyai kaitan yang erat yang dapat dibuktikan oleh beberapa penelitian terdahulu.
2.4       Citra Merek
            Merek adalah suatu tanda yang berupa gambar, nama , huruf, angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Menurut Surrachman (2008), pengertian merek bukan sekedar sesauatu yang dapat menampilkan nilai fungsionalnya, melainkan juga dapat memberikan nilai tertentu dalam lubuk hati atau benak konsumen. Suatu citra merek yang kuat dapat memberikan beberapa keunggulan utama bagi suatu perusahaan salah satunya akan menciptakan suatu keunggulan bersaing. Produk yang memiliki citra merek yang baik cenderung akan lebih mudah diterima oleh konsumen. Citra merek terhadap produk berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu produk. Konsumen dengan citra positif terhadap suatu produk, lebih memungkinkan untuk membangun citra positif terhadap suatu produk.
2.5       Desain Produk
            Desain Produk menurut Suyanto (2005), merupakan totalitas dari keistimewaan yang mempengaruhi cara penampilan dan fungsi suatu produk untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Desain produk merupakan senjata paling ampuh untuk mendeferensiasikan dan memposisikan produk dan jasa perusahaan. Sedangkan menurut Soekarno dan Basuki (2004), desain adalah pola rancangan yang menjadi dasar pembuatan suatu benda. Desain dihasilkan melalui pemikiran, berbagai pertimbangan, perhitungan, dan tidak boleh meninggalkan diri dari alam, cita, rasa, serta kegemaran orang banyak. Hasilnya, desain yang dituangkan di atas kertas berwujud gambar, dengan mudah dapat ditangkap pengertian dan maksudnya oleh orang lain sehingga dengan mudah dapat diwujudkan dalam bentuk yang sebenarnya.
            Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Desain merupakan bentuk rumusun dari suatu proses pemikiran, pertimbangan dan perhitungan.
2.      Desain yang dituangkan dalam wujud gambar merupakan pengalihan gagasan atau pola pikir konkret dari perancang kepada orang lain.
3.      Setiap  bentuk adalah hasil karya pengungkapan dari penampilan sebuah desain

2.6       Keputusan Pembelian
            Keputusan pembelian menurut Drumond (2003:68), adalah mengidentifikasikan semua pilihan yang mungkin untuk memecahkan persoalan itu dan menilai pilihan-pilihan secara sistematis dan obyektif serta sasaran-sasarannya yang menentukan keuntungan serta kerugiannya masingmasing. Definisi keputusan pembelian menurut Nugroho (2003:38) adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu diantaranya.
            Menurut Kotler (2009:184) mendefinisikan keputusan pembelian konsumen yaitu: “Keputusan pembelian konsumen akhir perorangan dan rumah tangga yang membeli barang dan jasa untuk konsumsi pribadi.” Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2008:19) mengemukakan bahwa “Keputusan pembelian konsumen adalah pemilihan satu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif.”
2.7       Penelitian Terdahulu
            Dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dapat memberikan gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian.. Berikut ini adalah beberapa enelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

Tabel 2.1
Tabel Penelitian Terdahulu
NO
PENELITI
JUDUL
VARIABEL
HASIL
1
Nela Evalina
Pengaruh Citra  Merek, Kualitas, Harga dan Promosi terhadap Keputusan Pembelian Kartu Perdana Telkom Flexi
Variabel Bebas : Citra Merek, Kualitas, Harga dan Promosi
Variabel Terikat : Keputusan Pembelian
Citra Merek, Kualitas, Harga dan Promosi berpengaruh positif terhadap  Keputusan Pembelian
2
Nurlisa
Pengaruh Harga, Kualitas Produk dan Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian Kecap manis Merek Bango
Variabel Bebas : Harga, Kualitas Produk dan Citra Merek
Variabel Terikat : Keputusan Pembelian
Harga, Kualitas dan Citra Merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian
3
Hendra Noky Andrianto
Pengaruh Kualitas Produk, Citra Merek, Harga dan Promosi terhadap Keputusan Pembelian Mobil Kijang Inova
Variabel Bebas: Kualitas Produk, Citra Merek, Harga dan Promosi
Variabel Terikat: Keputuan Pembelian
Kualitas, Citra Merek, Harga dan Promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian

2.8       Kerangka Pemikiran
            Pada suatu proses pembelian, biasanya seseorang mempertimbangkan lebih dahlu tentang produk apa yang akan dibeliya, apa manfaatnya, apa kelebihannya dari produk merek lain, sehingga konsumen mempunyai keyakinan untuk mengambil keputusan pembelian. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian seseorang. Berdasarkan hubungan antara variable dan hipotesis bahwa keputusan pembelian dipengaruhi oleh kualitas produk, harga, citra merek dan desain produk sehingga dapat dibuat kerangka pemikiran teoritis sebagai berikut :

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran


KUALITAS

 
                                    H
HARGA
 
 


                                                H
CITRA MEREK
 
KEPUTUSAN PEMBELIAN
\
 
                                   
                                                H                   
                                    
DESAIN PRODUK
 
                                                H
2.9       Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran dan perumusan masalah, maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :
H: Kualitas diduga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian
H: Harga diduga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian
H: Citra merek diduga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian
H: Desain Produk diduga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian 

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1       Objek Penelitian
            Objek dalam penelitian ini adalah sumber informasi yang di dapat dari masyarakat dapat memberikan data yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Dengan demikian obyek penelitian merupakan sumber informasi mencari data dalam mengungkapkan permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi obyek adalah masyarakat yang menggunaan mobil Toyota Avanza di kota Depok.

3.2       Populasi dan Sampel

3.2.1    Populasi
            Menurut Harinaldi (2005), populasi adalah kumpulan dari keseluruhan pengukuran, objek atau individu yang sedang dikaji. Jadi pengertian populasi dalam statistik tidak terbatas pada sekelompok/kumpulan orang-orang, namun mengacu pada seluruh ukuran, hitungan atau kualitas yang menjadi fokus perhatian suatu kajian. Penelitian ini menggunakan konsumen yang pernah membeli dan memakai produk mobil Toyota yang tidak diketahui secara pasti jumlahnya. Maka dari itu akan diambil sampel untuk penelitian ini.

3.2.2    Sampel
            Menurut Margono (2004), menyataka bahwa sampel adalah sebagai bagian dari populasi, sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu. Ia menyatakan bahwa sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan hal berikut:
1.      Peneliti bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti sebagian saja.
2.      Penelitian bermaksud mengadakan generalisasi dari hasil-hasil kepenelitiannya, dalam arti mengenakan kesimpulan-kesimpulan kepada objek, gejala, atau kejadian yang lebih luas.
            Penelitian ini menggunakan sampel karena tidak dimungkinkan untuk meneliti semua konsumen mobil Toyota Avanza di Kota Depok. Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan kombinasi metode convenience sampling dimana sampel terdiri dari orang yang bersedia dan mudah bagi peneliti untuk memulai wawancara. Penelitian ini akan menggunakan 4 variabel bebas, maka dari itu sampel yang akan diambil dalam penelitian ini berjumlah 100 sampel.

3.3       Jenis dan Pengumpulan Data
3.3.1    Jenis dan Sumber data
            Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data primer dan data sekunder. Berikut adalah uraiannya :
1.      Data Primer
            Data primer adalah data yang diperoleh peneliti langsung dari sumber asli, tanpa perantara. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner oleh          konsumen mobil Toyota Avanza di Kota Depok.
2.      Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari pihak yang mengambil   data primer atau dari pihak ketiga yang merupakan perantara. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data sekunder dari Otomotifnet.

3.3.2    Metode Pengumpulan Data
            Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang diberikan peneliti pada responden untuk diberikan jawaban. Kusioner terdiri dari pertanyaan terbuka, yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan identitas responden serta pertanyaan tertutup yaitu pertanyaan yang meminta responden untuk memilih salah satu jawaban yang telah tersedia. Pertanyaan dibuat dalam bentuk angket dengan menggunakan skala Likert 1 – 5 yang masing – masing mewakili pendapat dari responden. Skala tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Sangat setuju : Skor 5
b.      Setuju : Skor 4
c.       Netral : Skor 3
d.      Tidak Setuju : Skor 2
e.       Sangat Tidak Setuju : Skor 1
                Pada penelitian ini, responden diharuskan memilih salah satu dari kelima alternatif jawaban yang tersedia. Nilai yang diperoleh akan dijumlahkan dan jumlah tersebut menjadi nilai total.

3.4       Operasional Variabel Penelitian dan Pengukuran
            Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala likert. Skala ini merupakan suatu teknik perskalaan yang dipakai secara luas dalam riset perilaku. Gordon (1984) menyatakan bahwa perumusan menggunakan lima titik dapat menghasilkan frekuensi yang kira – kira sama. Variabel yang diukur dalam penelitian ini mencakup (1) kualitas produk, (2) harga, (3) citra merek, (4) desain produk.
            Variabel kualitas produk dengan indikator meliputi kinerja suatu produk, daya tahan suatu produk, reabilitas, bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan, dan kenyamanan dalam penggunaan. Variabel harga dengan indikator meliputi harga yang terjangkau, harga sesuai dengan kualitas produk, harga bersaing dengan produk sejenis dan harga sesuai dengan manfaat yang dirasakan.Variabel citra merek dengan indikator meliputi symbol yang sudah dikenal, percaya pada kualitas mereknya, reputasi merek yang sudah dikenal dan mengikuti perkembangan jaman. Variabel desain produk dengan indikator meliputi gaya yang menggambarkan penampilan mengenai produk itu, daya tarik produk terhadap panca indra, kesesuaian desain produk dengan selera dan kehandalan dalam desain suatu produk.
            Definisi operasional variabel dan skala pengukuran yang digunakan secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 3.1
Tabel 3.1
Variabel, Definisi Operasional dan Skala Pengukuran
Variabel
Konsep Variabel
Skala
Sumber
Keputusan Pembelian (Y)
Suatu keputusan konsumen yang dipengaruhi oleh ekonomi keuangan sehingga membentuk suatu sikap untuk mengolah segala informasi dan mengambil kesimpulan berupa produk apa yang akan dibeli
Ordinal
Alma, 2011
Kualitas Produk (X1)
Merupakan salah satu sarana positioning utama pemasar. Kualitas yang mempunyai dampak langsung pada kinerja produk
Ordinal
Kotler dan Amstrong, 2008
Harga (X2)
Sejumlah uang yang ditagihkan atas suatu produk dan jasa, jumlah dari nilai yang ditukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa
Ordinal
Kotler dan Amstrong, 2008
Citra Merek (X3)
Sebagai bagian dari merek yang dapat dikenali namun tidak dapat diucapkan, seperti lambing, desain huruf atau warna khusus, atau persepsi pelanggan atas sebuah produk atau jasa yang diwakili oleh mereknya
Ordinal
Surrachman, 2008
Desain Produk (X4)
Totalitas  fitur yang mempengaruhi penampilan dan fungsi produk tertentu menurut diyariatkan oleh pelanggan
Ordinal
Kotler, 2001

3.5       Metode Analisis Data
            Dari data yang didapat dari penyebaran kuesioner, akan dianalisis agar memberikan manfaat dan dapat digukan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan pembelian.

3.5.1    Uji Validitas
            Ferdinand (2006) menyatakan valid dapat berarti bahwa instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Suatu kuesioner dinyatakan valid ketika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Tingkat validitas dapat diukur dengan membandingkan nilai r hitung (correlation item total correlation) dengan r table denga ketentuan degree of freedom (df) = n-2, dimana n adalah jumlah sampel dengan α = 5 %, kriteria untuk penilaian uji validitas sebagai berikut :
            rhitung > r table , maka pernyataan tersebut valid
            rhitung < r table , maka pernyataan tersebut tidak valid

3.5.2    Uji Reliabilitas
            Uji reliabilitas digunakan untuk menguji seberapa jauh alat ukur yang digunakan dapat dipercaya. Alat ukur yang digunakan dapat dikatakan reliable jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil jika dilakukan berulang – ulang. Uji Reliabilitas dilakukan dengan menggunakan Cronbach alpha (α), dimana suatu konstruk/variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai alpha (α) > 0,60 (Imam Ghozali, 2006).


3.5.3    Uji Asumsi Klasik
            Di dalam penelitian ini untuk mengolah data hasil penelitian menggunakan Analisis Inferensial (kuantitatif) di mana dalam analisis tersebut menggunakan program SPSS. Analisi data dilakukan dengan bantuan metode regresi linier berganda, namun sebelum melakukan analisis regresi linier berganda digunakan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolonieritas, dan uji heteroskedastisitas.

3.5.3.1 Uji Normalitas
            Uji Normalitas bertjuan untuk menguji apakah dalam model regresi yang digunakan, variable terikat, variabel bebas atau keduanya memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal atau penyebaran data statistik pada sumbu diagonal dari grafik distribusi normal (Ghozali, 2006).
·         Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
·         Jika data menyebar jauh dari diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

3.5.3.2 Uji Multikolonieritas
            Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (Ghozali, 2005). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Multikolinieritas dapat diukur dari nilai tolerance dan varian inflation (VIF). Jika nilai tilerance > 0,1 dan VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas antar veriabel bebas dalam model regresi. Namun jika nilai tolerance < 0,1 dan VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat multikolinieritas antar variabel bebas dalam model regresi.

3.5.3.3 Uji Heteroskedastisitas
            Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Ketika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda, inilah yang disebut dengan heteroskedastisitas (Ghozali, 2006). Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas:
a.       Jika terdapat pola tertentu ( misalnya bergelombang, melebar kemudian menyempit) maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
b.      Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik – titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

3.5.4    Analisis Regresi Linier Berganda
            Dalam upaya untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini maka digunakan analisis regresi linear berganda (Multiple Regression). Analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi dan memprediksi rata-rata populasi atau nilai-nilai variable dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui (Ghozali, 2005).
            Jadi, analisis regresi linier berganda digunakan untuk menganalisis pengaruh antara harga, kualitas produk dan promosi sebagai variabel bebas terhadap keputusan pembelian sebagai variable terikat. Rumus umum dari regresi linier berganda adalah sebagai berikut :
Y = a + b1Ha + b2Kp + b3Cm + b4Dp + e
Keterangan :
Y = Keputusan Pembelian
a = Koefisien Konstanta
b1, b2, b3,b4 = Koefisien Regresi
X1 = Harga
X2 = Kualitas Produk
X3 = Citra Merek
X4 = Desain Produk
e    = Variabel Pengganggu

3.5.5    Pengujian Hipotesis

3.5.5.1 Uji Signifikansi Parameter Individual (uji t)
            Uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelasan atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2006). Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah variabel bebas (kualitas produk, citra merek, harga dan desain produk) terhadap variabel terikat (keputusan pembelian ) berpengaruh secara parsial atau terpisah.
            Hipotesis yang akan digunakan dalam pengujian ini adalah :
a.       H0 : variabel – variebel bebas (kualitas produk, harga, citra merek dan desain produk) secara parsial tidak memiliki pengaruh positif terhadap variabel terikat (keputusan pembelian).
b.      Ha : variabel – variabel bebas (kualitas produk, harga, citra merek dan desain produk) secara parsial mempunyai pengaruh positif terhadap variabel terikat (keputusan pembelian).
Dasar pengambilan keputusannya adalah (Ghozali, 2006) :
a.       Dengan membandingkan nilai t hitung dan t table.
Apabila ttabel> thitung maka H0 diterima dan Ha ditolak
Apabila ttabel < thitung maka H0 ditolak dan Ha diterima
b.      Dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi.
Apabila angka signifikansi > 0, 05 maka H0 diterima dan Ha ditolak
Apabila angka signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima

3.5.5.2 Uji Signifikansi Simultan (uji F)
            Uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama – sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2006). Dasar pengambilan keputusannya adalah :
            Menentukan F table dan F hitung dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% atau taraf signifikansi sebesar 5 % (α = 0,05)
a.       Apabila Fhitung> Ftabel dan nilai signifikansinya < 0,05 maka masing – masing variabel independen secara bersama sama mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.
b.      Apabila Fhitung< Ftabel dan nilai signifikansinya > 0,05 maka masing – masing variabel independen secara bersama – sama tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

3.5.5.3 Koefisien Determinasi
            Pengujian koefisien Determinasi (R2) bertujuan untuk mengukur seberapa jauh model yang digunakan dapat menerangkan variasi variabel independen. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 sampai dengan 1. Semakin kecil nilai koefisien determinasi menunjukan bahwa kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variasi variabel terikat sangat terbatas. Nilai koefisien determinasi yang semakin mendekati satu menunjukan bahwa variabel bebas yang digunakan memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat.

1.      Jika angka probabilitas signifikansi < 0,5 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti bahwa variabel bebas (harga, kualitas produk dan promosi) secara individual memiliki pengaruh signifikan terhadap variable terikat (keputusan pembelian).


Rabu, 18 Maret 2015

PENGARUH IKLAN TELEVISI DAN HARGA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SABUN LUX (SURVEI PADA PENGUNJUNG MEGA BEKASI HYPERMALL)


PENGARUH IKLAN TELEVISI DAN HARGA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SABUN LUX (SURVEI PADA PENGUNJUNG MEGA BEKASI HYPERMALL) 
Setyo Ferry Wibowo
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta
Email : setyoferry@yahoo.com Maya Puspita Karimah Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta Email : maya.imang@gmail.com 

ABSTRACT 
Generaly, the purpose of this research are: 1) To determine the analytical description of the television advertisement, price and purchase decision of Lux soap (Survey on visitors of Mega Bekasi Hypermall), 2) To determine the effect of television advertisement on purchase decision of Lux soap, 3) To determine the effect of price on purchase decision of Lux soap, 4) To determine the effect of the television advertisement, price and purchase decision of Lux soap (Survey on Visitors of Mega Bekasi Hypermall). The analysis which has been applied in this study is multiple linear regression analysis. The study has been conducted with a convinence sampling technique of 110 consumers who visited Mega Bekasi Hypermall, while the technique of data collection was done by distributing questionnaires which were processed by SPSS 19. According to the research that the t test result on the variable of television advertisement is 2,965 with a significant value of 0.004,which means that the television advertisement has a significant influence on purchase decision. Furthermore, the t test result on the price variable is 3,678 with significant value of 0.000, which means that the price has a significant effect on purchase decision. Whereas, the F test result of two variables television advertisement and price is 9,087 with a significance value of 0,000. Those figures descibes that the television advertisement and price simultaneously have significant influence on a purchase decision. In addition, the F test R2 value that is resulted from the research is 0.145 or 14.5%. This value describes the television advertisement and price influence on purchase decision as 14.5%.

Keywords: Television Advertisement, Price, Purchase Decision.

Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012

PENDAHULUAN

Dewasa ini televisi merupakan teknologi yang umum dijumpai hampir disetiap rumah penduduk di Indonesia. Televisi adalah penemuan masal yang dikembangkan dari tahun ke tahun, hingga istilah televisi dikemukakan oleh Constatin Perskyl dari Rusia pada tahun 1900 dan teknologi tersebut masih terus dikembangkan hingga saat ini. Di Indonesia sendiri, televisi baru dikenal sejak tahun 1967 dan hanya memiliki satu stasiun televisi saja, yaitu TVRI. Pada awalnya siaran televisi hanya dibatasi 2 jam setiap harinya, yaitu mulai pukul 19.30-21.30 WIB. Lalu pada tahun 1989, RCTI diizinkan pemerintah menjadi stasiun televisi swasta pertama di Indonesia. Hingga pada tahun 1990, tv kabel dibuka untuk umum, sehingga perusahaan televisi swasta semakin banyak memasuki industri pertelevisian Indonesia seperti TPI, SCTV, ANTV dan sebagainya. Dengan banyaknya stasiun televisi di Indonesia membuat banyak perusahaan baik dari Indonesia maupun luar negeri berlomba-lomba mengiklankan produknya melalui media televisi. Hal tersebut tentu karena media televisi adalah salah satu media yang efektif untuk memasarkan suatu produk dalam skala nasional. Setiap perusahaan yang mengeluarkan biaya untuk memasarkan iklannya tentu menginginkan keuntungan yang sesuai dengan apa yang mereka keluarkan, dan tujuan dari setiap perusahaan memasarkan produknya adalah sama, yaitu penjualan dimasa mendatang. Untuk mencapai tujuannya tersebut maka setiap pengguna jasa iklan televisi agar tertarik melihat iklan yang ditampilkan, agar pesan yang ingin di sampaikan produsen dapat diterima dengan baik oleh pemirsa televisi. Setelah pemirsa televisi merasa tertarik dengan iklannya diharapkan pemirsa tersebut tertarik dengan produk yang ditawarkan dalam iklan dan terdorong untuk memiliki produk tersebut yang akhirnya berharap mereka membuat keputusan untuk membeli produk yang ditawarkan.
Pada awal tahun 2011, disela-sela acara tv yang sedang dinikmati masyarakat Indonesia sering diputar iklan sabun mandi Lux Soft Touch. Televisi commercial ini juga dibuat untuk memperkenalkan brand ambassador terbaru Lux yaitu Atiqah Hasiholan yang menggantikan brand ambassador sebelumnya Luna Maya

Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012

yang terlibat kasus video porno. Dalam iklan ini Atiqah Hasiholan terlihat merasa sangat nyaman dengan kulit halus selembut sutra yang didapatkan dengan mandi menggunakan sabun Lux Soft Touch dengan silk protein dan cherry cream, karena kelembutan kulit yang dimilikinya itu membuat seorang pria yang berperan sebagai pasangan Atiqah yang tak ingin pergi meninggalkannya. Uraian tersebut menunjukkan bagaimana iklan tidak hanya menggambarkan produknya saja, melainkan jalan cerita singkat yang dibuat menarik, sehingga pemirsa tidak hanya dibuat mengerti dengan pesan yang disampaikan tetapi juga terdorong untuk menyukai iklan produk tersebut sehingga akhirnya membuat keputusan untuk membeli produk tersebut. Untuk membuat iklan yang bagus tentunya dibutuhkan pula anggaran belanja iklan yang tidak sedikit, tetapi data menunjukkan bahwa anggaran belanja iklan sabun Lux mengalami kenaikan cukup drastis di tahun 2009 dan mengalami penurunan pula cukup drastis di tahun 2010. Tabel 1: Top of Mind Advertising Produk Sabun Mandi Padat Tahun 2007-2010
Merek
2007
2008
2009
2010
Lifebuoy
44,9
39,9
48,0
45,2
Lux
33,0
32,7
24,7
29,3
Nuvo
6,1
7,4
5,3
5,2
Giv
5,6
6,0
5,0
5,3
Shinzui
2,4
2,8
3.5
4,4
Sumber: SWA 15/XXVI/15-28 Juli 2010
Top of Mind Advertising menunjukkan posisi suatu merek yang paling diingat konsumen melalui media advertising. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa Lux mengalami penurunan Top of Mind Advertising yang dapat diartikan bahwa efektifitas dan daya tarik iklan lux mulai mengalami penurunan. Keefektifitasan iklan Lux semakin memudar karena konsumen semakin sadar bahwa iklan cenderung lebih banyak menyampaikan klaim pemilik daripada menawarkan nilai produk sesungguhnya. Sehingga, walaupun Lux telah melakukan berbagai kegiatan advertising, Top of Mind Advertising Lux cenderung menurun dari tahun
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
4
ke tahun. Ini menyebabkan keputusan konsumen dalam pembelian sabun Lux pun menjadi berkurang, hal ini dapat dilihat dari penjualan sabun Lux. Selama ini sabun Lux dipasarkan dengan harga standar dan terjangkau, namun juga tidak terkesan murahan. Akan tetapi citra yang terbentuk dimasyarakat justru membuat Lux sebagai salah satu sabun eksklusif yang berharga cukup mahal, oleh karena itu para calon konsumen yang cukup sensitive dengan harga jual memutuskan untuk membeli produk pesaing yang dianggap lebih murah. Hal tersebut membuat rancu, karena citra iklan sabun Lux yang selalu dibintangi para artis-artis terkenal dan cantik yang terkesan eksklusif lah yang membuat citra Lux menjadi sabun dengan harga jual yang mahal. Padahal itu merupakan positioning yang dibuat Lux untuk meraih konsumen baru, konsumen dapat merasa cantik, elegan, dan eksklusif seperti model-model iklan yang membintangi iklan sabun Lux tetapi berharga jual yang terjangkau terjangkau. Tujuan Penelitian Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui analisis deskripsi iklan televisi dan harga sabun Lux terhadap keputusan pembelian sabun Lux.
2) Untuk menguji secara empiris pengaruh iklan televisi terhadap keputusan pembelian konsumen sabun Lux.
3) Untuk menguji secara empiris pengaruh harga terhadap keputusan pembelian konsumen sabun Lux.
4) Untuk menguji secara empiris pengaruh iklan televisi dan harga secara bersama-sama terhadap terhadap keputusan pembelian konsumen sabun Lux.
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
5
KAJIAN TEORI Iklan Menurut Kotler dan Amstrong (2012 : 454) iklan adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara nonpersonal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran. Perusahaan tidak hanya membuat produk bagus tapi mereka juga harus menginformasikannya kepada konsumen mengenai kelebihan produknya dan dengan hati-hati memposisikan produknya dalam benak konsumen. Karena itu, mereka harus ahli dalam menggunakan promosi. Promosi ditujukan untuk mendapatkan pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan yang ada. Salah satu alat promosi massal adalah iklan. Menurut Menurut Bearden dan Ingram (2007: 393) iklan adalah elemen komunikasi pemasaran yang persuasif, nonpersonal, dibayar oleh sponsor dan disebarkan melalui saluran komunikasi massa untuk mempromosikan pemakaian barang, atau jasa. Dimensi iklan televisi yang digunakan merupakan gabungan menurut Wells, Burnett & Moriarity (2009 : 495) dan menurut Kotler (2012 : 278) yaitu: Tujuan (mission), Video, Audio, Talent dan Penetapan Waktu Media. Harga Kotler dan Amstrong (2012:314) mengatakan bahwa harga merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakankan sebuah produk atau jasa. Dimensi yang digunakan merupakan gabungan menurut (Pepadri, 2002) price consciousness dan value for money menurut Sitinjak (2004:9). Indikator yang digunakan sebanyak 4 indikator, yaitu referensi harga, harga yang relatif lebih murah, kewajaran harga, kesesuaian pengorbanan dan harga sesuai dengan manfaat . Untuk pelanggan yang sensitif terhadap harga, harga yang murah biasanya adalah sumber kepuasan yang penting karena pelanggan akan mendapatkan value for money yang tinggi.
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
6
Keputusan Pembelian Menurut Peter dan James (2004 : 48) keputusan pembelian merupakan proses dimana konsumen membuat keputusan untuk membeli berbagai produk dan merek yang dimulai dengan pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi informasi, membuat pembelian dan kemudian mengevaluasi keputusan setelah membeli. Ada lima tahap model tingkat proses keputusan pembelian konsumen: pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan perilaku pascapembelian.
H1
H3
H2 Gambar 1: Kerangka Pemikiran Sumber: Data diolah peneliti Pada kerangka pemikiran tersebut iklan televisi dan harga menjadi variabel bebas, sedangkan keputusan pembelian menjadi variabel terikat. H1: Terdapat pengaruh antara iklan televisi terhadap keputusan pembelian produk sabun Lux. H2: Terdapat pengaruh antara harga terhadap keputusan pembelian pembelian produk sabun Lux. H3: Terdapat pengaruh antara iklan televisi dan harga terhadap keputusan pembelian produk sabun Lux. METODE PENELITIAN Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Menurut Malholtra (2009:93) riset deskriptif adalah satu jenis riset konklusif yang mempunyai tujuan utama menguraikan sesuatu biasanya karakteristik atau fungsi pasar.
Keputusan Pembelian (Y)
Iklan Televisi (X1)
Harga
(X2)
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
7
Populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung Mega Bekasi Hypermall. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 110 orang berdasarkan teori Roscoe, Sugiyono (2010 : 45) adalah Ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500. Agar instrumen yang dipakai dalam penelitian ini dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan, maka instrumen tersebut perlu diuji validitas dan reliabilitasnya. Teknik pengujian validitas menggunakan Bivariate Pearson dengan kriteria nilai r hitung lebih besar dari 0,361. Reliabilitas adalah tingkat kemampuan suatu instrumen penelitian untuk dapat mengukur suatu variabel secara berulangkali dan mampu menghasilkan informasi atau data yang sama atau sedikit sekali bervariasi. Perhitungan uji reliabilitas menggunakan Uji Cronbach’s Alpha dengan kriteria nilai Cronbach’s Alphalebih besar dari 0,60. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data yang dikumpulkan dari responden melalui kuesioner yang dijadikan sampel saat penelitian, diperoleh informasi mengenai data-data atau identitas responden sebagai berikut:
1. Jenis Kelamin
Terdapat 105 perempuan (95%) dan 2 laki-laki (5%). Data responden tersebut konsumen wanita lebih banyak dibanding konsumen pria karena sabun Lux memang sabun khusus wanita, sedangkan responden pria yang tetap membeli sabun Lux membeli dengan alasan untuk digunakan oleh istri atau saudara perempuan mereka.
2. Pengeluaran belanja per bulan
3.
Diketahui bahwa 18% (20 orang) mempunyai pengeluaran belanja kurang dari Rp. 300.000 per bulan, sedangkan 30% (33 orang) merupakan mereka yang memiliki pengeluaran belanja Rp. 300.001 – Rp.400.00 per bulan. Sementara itu responden yang memiliki pengeluaran belanja Rp. 400.001 – Rp. 500.000 sebanyak 32% (35 orang), dan 11% (12 0rang) memiliki pengeluaran sebesar
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
8
Rp. 500.001 – Rp. 600.000 per bulan, serta sebanyak 9% (10 orang) memiliki pengeluaran > Rp. 600.000 per bulan. Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran belanja per bulan tidak menghalangi keinginan untuk membeli produk Lux. 3. Jumlah Belanja Produk Lux per bulan Terdapat 9 orang (8%) membeli sabun lux 1 buah per bulannya, 17 orang (15%) membeli 2 buah sabun Lux per bulan, 38 orang (35%) membeli 3 buah dalam satu bulan, 31 orang (28%) membeli 4 buah dalam satu bulan, dan 15 orang (14%) membeli sabun Lux lebih dari 5 buah per bulannya. Dari data diatas reponden melakukan pembelian sabun Lux minimal 3 buah per bulannya. Uji Validitas Uji validitas menggunakan tiga puluh (n=30) responden sebagai sampel uji coba. Perhitungan uji validitas ini menggunakan Bivariate Pearson dengan kriteria bahwa data akan valid jika nilai r hitung lebih dari r tabel (0,361). Tabel 2: Hasil uji validitas iklan televisi (X1)
No
r hitung
r table
Keterangan
1
0.517
0.361
Valid
2
0.507
0.361
Valid
3
0.555
0.361
Valid
4
0.466
0.361
Valid
5
0.465
0.361
Valid
6
0.683
0.361
Valid
7
0.674
0.361
Valid
8
0.668
0.361
Valid
9
0.550
0.361
Valid
10
0.689
0.361
Valid
11
0.647
0.361
Valid
12
0.674
0.361
Valid
13
0.606
0.361
Valid
14
0.533
0.361
Valid
15
0.612
0.361
Valid
16
0.650
0.361
Valid
Sumber: Data diolah peneliti Berdasarkan hasil uji validitas penelitian pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa semua item dinyatakan valid, artinya telah memenuhi kriteria yaitu r hitung lebih r tabel (r tabel= 0,361).
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
9
Tabel 3: Hasil uji validitas harga (X2)
No
r hitung
r table
Keterangan
17
0.608
0.361
Valid
18
0.728
0.361
Valid
19
0.706
0.361
Valid
20
0.831
0.361
Valid
21
0.654
0.361
Valid
Sumber: Data diolah peneliti Berdasarkan hasil uji validitas penelitian pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa semua item dinyatakan valid, artinya telah memenuhi kriteria yaitu r hitung lebih r tabel (0.361). Tabel 4: Hasil uji validitas keputusan pembelian (Y)
No
r hitung
r table
Keterangan
22
0.653
0.361
Valid
23
0.565
0.361
Valid
24
0.676
0.361
Valid
25
0.759
0.361
Valid
26
0.694
0.361
Valid
27
0.592
0.361
Valid
28
0.604
0.361
Valid
29
0.567
0.361
Valid
30
0.581
0.361
Valid
31
0.547
0.361
Valid
Sumber: Data diolah peneliti Berdasarkan hasil uji validitas penelitian pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa semua item dinyatakan valid, artinya telah mewmenuhi kriteria yaitu r hitung lebih r tabel (0.361). Uji Reliabilitas Setelah melakukan validitas, maka selanjutnya adalah melakukan uji reliabilitas dengan teknik Uji Cronbach’s Alpha dengan kriteria nilai Cronbach’s Alpha lebih dari 0,60. Tabel 5: Hasil Uji Reliabilitas
No
Variabel
Nilai alpha
Keterangan
1
Iklan Televisi
0.870
Reliabel
2
Harga
0.746
Reliabel
3
Keputusan Pembelian
0.822
Reliabel
Sumber: Data diolah peneliti Berdasarkan hasil uji realibilitas yang telah dilakukan untuk semua variabel, maka dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel tersebut dinyatakan reliabel karena nilai Cronbach’s Alpha melebihi 0,6.
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
10
Uji Normalitas Dalam penelitian ini menggunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov dengan taraf signifikansi 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi lebih besar dari 0,05. Tabel 6: Hasil uji normalitas
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai signifikansi untuk ketiga variable yakni; iklan televisi (X1), harga (X2) dan keputusan pembelian (Y) lebih besar dari 0,05 artinya berdistribusi normal. Uji Linearitas Tabel 7: Hasil Uji Linearitas Iklan Televisi dengan Keputusan Pembelian
Sumber: Data diolah oleh peneliti Berdasarkan tabel diatas nilai signifikansi pada Linearity untuk hasil uji linearitas sebesar 0,003, karena signifikansi kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara variabel iklan televisi dengan keputusan pembelian Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic df Sig. Iklan_TV .078 110 .095 .969 110 .011 Harga .075 110 .159 .970 110 .015 Kept_Pemb .075 110 .161 .984 110 .203 a. Lilliefors Significance Correction Sumber: Data diolah oleh peneliti ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. kptsn_pemb * iklan_tv Between Groups (Combined) 753.228 22 34.238 1.488 .100 Linearity 207.383 1 207.383 9.015 .003 Deviation from Linearity 545.845 21 25.993 1.130 .334 Within Groups 2001.326 87 23.004 Total 2754.555 109
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
11
Tabel 8: Hasil Uji Linearitas Harga dengan Keputusan Pembelian
Sumber: Data diolah oleh peneliti Berdasarkan tabel 8, nilai signifikansi pada linearity untuk hasil uji linearitas sebesar 0,000, karena signifikansi kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara variabel harga dengan keputusan pembelian. Uji Multikolinearitas Tabel 9: Hasil Uji Multikolinearitas
Pada tabel 9 dapat diketahui bahwa nilai Variance Inflation Factor (VIF) dari kedua variabel, yaitu iklan televisi dan harga adalah 1,096. Nilai VIF tersebut lebih kecil dari lima, sehingga dapat dikatakan bahwa antar variabel independen tidak terjadi persoalan multikolinearitas. ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. kptsn_pemb * harga Between Groups (Combined) 605.243 13 46.557 2.079 .022 Linearity 306.657 1 306.657 13.697 .000 Deviation from Linearity 298.586 12 24.882 1.111 .360 Within Groups 2149.312 96 22.389 Total 2754.555 109 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant) 19.220 4.454 4.316 .000 iklan_tv .157 .076 .193 2.059 .042 .913 1.096 harga .455 .154 .277 2.958 .004 .913 1.096 a. Dependent Variable: kptsn_pemb Sumber: Data diolah oleh peneliti
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
12
Uji Heterokedastisitas Tabel 10: Uji Heterokedastisitas Lnei2 dengan LnX1 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -2.351 8.262 -.285 .777 LnX1 1.021 2.041 .048 .501 .618 a. Dependent Variable: Lnei2 Sumber: Data diolah oleh peneliti Berdasar tabel diatas,–t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel (-1,982 ≤ 0,501 ≤ 1,982). Artinya, pengujian antara Lnei2 dengan LnX1 tidak terdapat gejala heteroskedastisitas
Tabel 11: Uji Heterokedastisitas Lnei2 dengan LnX2 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 4.407 3.488 1.263 .209 LnX2 -.917 1.217 -.072 -.753 .453
a. Dependent Variable: Lnei2 Sumber: Data diolah oleh peneliti Berdasar tabel diatas,–t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel (-1,982 ≤ - 0,753 ≤ 1,982 ). Artinya, pengujian antara Lnei2 dengan LnX2 tidak terdapat gejala heteroskedastisitas Uji Hipotesis H1: Iklan Televisi berpengaruh terhadap keputusan pembelian Hasil pengujian hipotesis pertama dengan t hitung sebesar 2.965 dan t tabel sebesar 1,982, karena t hitung > t tabel (2.965 > 1,982) maka terdapat berpengaruh yang signifikan antara iklan televisi terhadap keputusan pembelian. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik iklan televisi maka semakin tinggi keputusan pembelian.
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
13
H2: Harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian Hasil pengujian hipotesis kedua dengan t hitung sebesar 3,678 dan t tabel sebesar 1,982, karena t hitung > t tabel (3,678 > 1,982) maka terdapat berpengaruh yang signifikan antara harga terhadap keputusan pembelian. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik harga maka semakin tinggi keputusan pembelian. H3: Iklan televisi dan harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian Hasil pengujian hipotesis ketiga dengan F hitung sebesar 9,087 dan F tabel sebesar 3,081, karena F hitung > F tabel (9,087 > 3,081) maka secara bersama-sama iklan televisi dan harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Diintepretasikan bahwa semakin baik iklan televisi dan harga maka semakin tinggi keputusan pembelian. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Iklan televisi sabun Lux dibenak konsumen secara keseluruhan sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan dimensi-dimensi iklan televisi seperti Tujuan ,Video,Audio,Talent dan Penetapan Waktu Media. Harga sabun Lux di mata konsumen secara keseluruhan sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan dimensi-dimensi harga yaitu Price Consciousness dan value for money. Keputusan pembelian sabun Lux di mata konsumen secara keseluruhan sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan dimensi-dimensi keputusan pembelian yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternative, keputusan pembelian, dan perilaku pascapembelian. Iklan televisi memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian dengan nilai signifikansi 0,004 dan R2 (R square) sebesar 0,075 atau 7,5%. Angka tersebut menjelaskan bahwa iklan televisi menjelaskan terhadap keputusan pembelian sebesar 7,5%.
Harga memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian dengan nilai signifikansi 0,000 dan R2 (R square) sebesar 0,111 atau 11,5%. Angka tersebut
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
14
menjelaskan bahwa harga menjelaskan terhadap keputusan pembelian sebesar 11,1%. Iklan televisi dan harga memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian dengan nilai signifikansi 0,000 dan R2 (R square) sebesar 0,145 atau 14,5%. Angka tersebut menjelaskan bahwa iklan televisi dan harga menjelaskan terhadap keputusan pembelian sebesar 14,5%. Saran Lux mulai mengangkat tema iklan yg kreatif , dan disarankan untuk meningkatkan teknik visualisasi video. Lux juga bisa mencoba menggunakan latar suara musik jazz, piano classic, atau instrumental saxophone.Lux disarankan agar lebih selektif dalam menjadikan seorang public figure sebagai brand ambassador dan Lux harus menambah lagi frekuensi penayangan iklan khususnya di jam “prime time”. Lux disarankan untuk menyesuaikan harga produk dengan kualitas produk dan menambah manfaat produk dengan serta menciptakan formula baru yang tidak dimiliki pesaing lainnya. Lux harus lebih berhati-hati dalam proses editing iklan televisi agar konsumen mendapat informasi yang dicari dari iklan tv tersebut. Lux juga harus menambah varian aroma yang lebih menarik lagi, yang mengandung aromatheraphy. Lux harus membuat program promosi yang efektif. Lux harus membuat konsumen merasa puas, memenuhi apa yang dibutuhkan dan diinginkan para konsumen. Saran Untuk Penelitian Berikutnya
Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada hampir setiap dimensi variabel didapatkan respon negative bernilai lebih dari 30%, yang berarti terdapat masalah di hampir setiap dimensi yang digunakan pada penelitian ini. Oleh karena itu penulis menyarankan untuk observasi dan penyebaran kuesioner di penelitian berikutnya menggunakan teknik eksperimental, artinya peneliti harus menunjukkan bentuk video iklan dengan kualitas yang sangat baik kepada
Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012
15
responden, agar responden dapat benar-benar mengetahui dan memahami iklan televisi yang dimaksud sehingga penilaian yang diberikan responden lebih objektif dan diharapkan bisa mengurangi respon negative yang akan dihasilkan. Untuk penelitian selanjutnya, penulis juga menyarankan untuk tidak mengambil objek penelitian di sebuah Mall yang merupakan tempat umum. Hal ini juga menyebabkan kurangnya konsentrasi responden dalam mengisi kuesioner karena suasana yang kurang kondusif dan agak ramai, sehingga penilaian yang diberikan kurang objektif. DAFTAR RUJUKAN Kotler, Philip and Garry Amstrong. 2012. Principles of Marketing. New Jersey: Pearson Education Limited Kotler, Philip and Kevin Lane Keller. 2012. Marketing Management. New Jersey: Pearson Education Limited Malhotra, Naresh K. 2009. Riset Pemasaran. Jakarta: PT Macanan Jaya Cemerlang Pepadri, Isman. Oktober 2002. Pricing is the Moment of Truth  All Market : Tehnik Manajemen Biaya Untuk Transformasi Visi Bing Comes to Focus in The Pricing Decision. Manajemen dan Usahawan Indonesia, No. 10 Th XXXI, halaman 15-19. Peter, J Paul and Jerry C Olson. 2004. Consumer behavior: Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran Jilid 1. (Edisi Keenam). Jakarta: Erlangga Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Tjiptono, Fandy dan Gregorius Chandra. 2005. Service, Quality & Satisfaction. Yogyakarta: ANDI Wells, W., Burnett, J., & Moriarity, S. 2009. Advertising: Principles and Practice (7th ed). New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs. Majalah: Sugiarto, Eka, 15-28 Juli 2010. Top of Mind Advertising sabun mandi padat. SWA/15/XXVI/halaman 72 .

Sumber: http://www.jrmsi.com/attachments/article/18/PENGARUH%20IKLAN%20TELEVISI%20DAN%20HARGA%20TERHADAP%20KEPUTUSAN%20PEMBELIAN%20SABUN%20LUX.pdf
Nama : Risnandar
Npm : 16212478

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Konsumen Pada Produk Minuman Berisotonik Pocari Sweat

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Konsumen Pada Produk Minuman Berisotonik Pocari Sweat

STIE MDP

 Abstrak : Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis seberapa besar pengaruh harga, kualitas produk, dan promosi terhadap keputusan pembelian konsumen pada produk minuman isotonik Pocari Sweat baik secara simultan maupun parsial dan faktor manakah dari ketiga variabel tersebut yang paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Metode penelitian menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini berupa kuesioner yang disebar dengan teknik nonprobability sampling kepada 100 responden yang pernah membeli atau mengkonsumsi Pocari Sweat, sedangkan data sekunder berupa data jumlah penduduk kota Palembang yang diperoleh dari BPS. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, analisis regresi berganda, analisis koefisien determinasi, dan uji hipotesis (uji F dan uji t). Hasil yang dicapai menunjukan bahwa harga, kualitas produk, dan promosi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian karena nilai F hitung (13,811) > F tabel (2,70) dengan signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 (P value < 0,05). Analisis koefisien determinasi menunjukan angka sebesar 0,280 atau sama dengan 28% yang artinya harga, kualitas produk, dan promosi hanya mempengaruhi keputusan pembelian sebesar 28%, sedangkan sisanya sebesar 72% kemungkinan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Secara parsial, hanya kualitas produk yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk Pocari Sweat. Hal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan taraf signifikansi sebesar 0,05 diperoleh nilai t tabel (1,98498) dan t hitung (4,376) artinya t hitung (4,376) > t tabel (1,98498) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 (P value < 0,05). Kesimpulan yang didapat bahwa harga, kualitas produk, dan promosi dapat mempengaruhi keputusan pembelian produk. Perusahaan disarankan untuk terus berinovasi dan melakukan perbaikan pada strategi pemasarannya agar dapat mendorong konsumen untuk mencoba dan melakukan pembelian produk, membentuk citra merek yang positif dalam jangka panjang serta menimbulkan loyalitas konsumen. Kata Kunci: harga, kualitas produk, promosi, keputusan pembelian
Abstract : The purpose of this study was to analyze the influence of price, quality products, and the promotion of consumer purchasing decisions in an isotonic drink Pocari Sweat either simultaneously or partially and factors which of the three variables that most influence the purchase decision. The research method used type of primary data and secondary data. The primary data in this study in the form of questionnaires distributed by nonprobability sampling technique to the 100 respondents who never buy or consume Pocari Sweat, while secondary data the population of the city of Palembang obtained from the BPS. Data analysis in this study using the test validity, reliability testing, regression analysis, analysis of the coefficient of determination, and hypothesis testing (F test and t test). The results achieved show that the price, product quality, and the simultaneous promotion significantly influence purchasing decisions for calculating the value of F (13.811)> F table (2.70) with a significance of 0.000 <0.05 (P value <0.05) . Analysis of the coefficient of determination shows the number of 0.280 or equal to 28%, which means the price, quality product, and promotion only affect purchase decisions by 28%, while the remaining 72% likely influenced by other factors not examined in this study. Partially, only the quality of the products that significantly influence product purchasing decisions Pocari Sweat. This can be proved by using a significance level of 0.05 obtained t value table (1.98498) and t count (4.376) means t count (4.376)> t table (1.98498) with a significance value of 0.000 <0.05 (P value <0.05). The conclusion that the price, product quality, and promotion can influence product purchasing decisions. Companies are advised to continue to innovate and make improvements to their marketing strategies in order to
Hal - 2
encourage consumers to try and buy the product, establish a positive brand image in the long-term and creates customer loyalty.
Key Word : price, product quality, promotion, purchasing decisions
1. PENDAHULUAN
Perkembangan bisnis yang begitu pesat membuat kondisi persaingan semakin ketat. Konsumen dihadapkan pada berbagai jenis pilihan produk yang ditawarkan oleh setiap perusahaan guna memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Satu fakta yang tetap bertahan adalah kebutuhan dan keinginan manusia selalu berlimpah. Perusahaan–perusahaan bisnis pun perlu melakukan tugasnya dengan lebih baik lagi untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan yang mendesak, menemukan produk–produk yang lebih baik, melakukan kegiatan periklanan dan penyerahan produk–produk itu secara lebih efisien sehingga para konsumen dapat dengan mudah memperolehnya. Sehubungan dengan hal tersebut, perusahaan perlu menerapkan studi perilaku konsumen pada kegiatan pemasarannya. Tujuan utama mempelajari perilaku konsumen bagi produsen atau perusahaan adalah untuk memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan pembelian. Dengan adanya pemahaman tentang keputusan pembelian dapat memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk merencanakan strategi pemasaran ( yang terdiri dari harga, kualitas produk, dan promosi) agar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen dan mendorong konsumen konsumen untuk melakukan keputusan pembelian.
PT. Amerta Indah Otsuka dengan mereknya “Pocari Sweat” menjadi pemimpin pasar minuman berisotonik. Pada tahun 2012 ini saja, pocari sweat kembali menduduki peringkat pertama mengulangi prestasi di tahun-tahun sebelumnya pada Top Brand Awards dengan kategori minuman isotonik dengan market share sebesar 50,1% mengalahkan pesaing lainnya. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengadakan penelitian dengan judul: “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Konsumen pada Produk Minuman Berisotonik Pocari Sweat”.
2. LANDASAN TEORI
2.1.1 Pemasaran Menurut Kotler dan Armstrong (2008, h.5) pemasaran lebih dari fungsi bisnis lainnya yang berhubungan dengan pelanggan. Dua sasaran pemasaran adalah menarik pelanggan baru dengan menjanjikan keunggulan nilai serta menjaga dan menumbuhkan pelanggan yang ada dengan memberikan kepuasan. Pemasaran yang kokoh menjadi penting bagi kesuksesan dalam semua organisasi.
2.1.2 Perilaku Konsumen
Dengan memahami perilaku konsumen, pelaku usaha dapat membidik target-target pembeli secara lebih fokus dan terarah. Dengan kata lain, pelaku usaha dapat menjabarkan dengan lebih jelas tentang sasaran dan target pembeli untuk selanjutnya mengarahkan kegiatan pemasaran kepada para agen penjualan dan mencapai target pembeli yang dimaksud (Nitisusastro, 2012, h.39). Menurut Philip Kotler (2008, h.159), perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Faktor budaya
Faktor budaya mempunyai pengaruh yang luas dan mendalam pada perilaku konsumen. Pemasar
Hal - 3
harus memahami peran yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli.
a. Budaya
b. Subbudaya
c. Kelas sosial
2. Faktor sosial
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok, keluarga, serta peran dan status siosial konsumen.
a. Kelompok
b. Keluarga
c. Peran dan status
3. Faktor pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti usia dan tahap siklus hidup pembeli, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri.
a. Usia dan tahap siklus hidup
b. Pekerjaan
c. Situasi ekonomi
d. Gaya hidup
e. Kepribadian dan konsep diri
4. Faktor psikologis
Selanjutnya pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama: motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap.
a. Motivasi
b. Persepsi
c. Pembelajaran
d. Keyakinan dan sikap
2.1.3 Keputusan Pembelian Konsumen
Keputusan membeli atau tidak membeli merupakan bagian dari unsur yang melekat pada diri individu konsumen yang disebut behavior dimana ia merujuk kepada tindakan fisik yang nyata dapat dilihat dan diukur oleh orang lain (Nitisusastro, 2012, h.195). Tahap-tahap keputusan pembelian adalah sebagai berikut (Kotler dan Armstrong, 2008, h.179):
1. Pengenalan kebutuhan
2. Pencarian informasi
3. Evaluasi alternatif
4. Keputusan pembelian
5. Perilaku pasca pembelian
2.1.4 Harga Harga adalah jumlah yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa. Lebih luas lagi, harga adalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa. 2.1.5 Kualitas Produk Kualitas produk adalah karakterisitik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan atau diimplikasikan. Suatu produk lazimnya memiliki dua jenis manfaat, yakni manfaat fungsional dan manfaat psikologis (Nitisusastro, 2012, h.162). 2.1.6 Promosi Menurut William J.Stanton yang dikutip oleh Danang Sunyoto(2012, h.154), promosi adalah unsur dalam bauran pemasaran yang didayagunakan untuk memberitahukan, membujuk, dan mengingatkan tentang produk perusahaan. Kegiatan promosi dapat dilakukan dengan beberapa cara yang disebut bauran promosi yang terdiri dari iklan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, acara dan pengalaman, pemasaran langsung dan interaktif, pemasaran dari mulut ke mulut, serta penjualan personal.
Hal - 4
3. METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kausal yang bertujuan untuk menyelidiki hubungan yang bersifat sebab akibat antara variabel independent (harga, kualitas produk, dan promosi) dan dependent (keputusan pembelian). 3.2 Subjek Penelitian Subjek yang akan di teliti dari penelitian ini adalah masyarakat yang pernah mengkonsumsi dan membeli pocari sweat di Carefour, PS Mall,dan sport centre seperti ratu futsal dan espresso fitness. 3.3 Teknik Pengambilan Sampel Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel diambil dengan menggunakan teknik nonprobability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2008, h.120). Teknik nonprobability sampling yang digunakan adalah accidental sampling, teknik pengambilan responden sebagai sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila orang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data. Pada penelitian ini sampel yang diambil adalah masyarakat yang membeli dan mengkonsumsi pocari sweat. 3.3.1 Populasi
Populasi yaitu wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008, h.115). Populasi dalam penelitian ini adalah para masyarakat yang pernah membeli dan mengkonsumsi pocari sweat pada minimarket dan sport centre di Palembang. 3.3.2 Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono,2008, h.116). Menurut Roscoe yang dikutip oleh Sekaran (2006, h.160), ukuran sampel yang tepat untuk penelitian lebih dari 30 dan kurang dari 500. Sampel yang diambil adalah masyarakat Palembang yang produktif dan mengkonsumsi produk minuman pocari sweat yang berumur 15-54 tahun. Jumlah penduduk usia 15–54 tahun di Palembang pada pertengahan tahun 2011 menurut angka sensus penduduk 2010 sebesar 927.174 jiwa. Rumus yang digunakan untuk menentukan ukuran sampel pada penelitian adalah rumus slovlin (Suliyanto,2010, h.100) yaitu: n= 𝐍𝟏+𝐍𝐞𝟐 n : jumlah sampel N : jumlah populasi e : persentase kelonggaran ketelitian karena kesalahan pengambilan sampel sebesar 10% maka , n= 927.1741+927.174(0.1)2 n= 927.1749.272,74 n= 99,98 Jadi, ukuran sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 100 responden. 3.4 Jenis Data
Hal - 5
a. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh melalui survei lapangan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang original, yang diperoleh langsung dari responden melalui alat bantu kuesioner. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil data kuesioner yang diisi oleh responden tentang harga, kualitas produk, promosi dan keputusan pembelian.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung, berupa data-data yang diperoleh dari sumber-sumber lain yang telah diolah terlebih dahulu dan ada hubungannya dalam penelitian yang sifatnya melengkapi atau mendukung data primer. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data jumlah penduduk kota Palembang yang diperoleh dari BPS. 3.5 Teknik Pengumpulan Data
a. Kuesioner
Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner adalah suatu cara pengumpulan data dengan memberikan daftar pertanyaan kepada responden dengan harapan akan memberi respon atas pertanyaan tersebut.
b. Studi Pustaka
Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan membaca buku-buku literatur yang berkaitan dengan studi perilaku konsumen serta beberapa jurnal dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan.
3.6 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur suatu variabel tersebut. Maka untuk mempermudah pencarian data di lapangan serta pengukuran analisis data, masing-masing variabel dituangkan dalam definisi operasional berikut ini:
a. Harga (X1)
Harga menggambarkan penilaian konsumen tentang harga pocari sweat. Indikator-indikator harga antara lain : 1. harga yang sesuai dengan kualitas produk 2. harga yang sesuai dengan ukuran kemasan produk
b. Kualitas produk (X2)
Kualitas produk menggambarkan penilaian konsumen terhadap kualitas pocari sweat. Indikator-indikator kualitas antara lain : 1. Manfaat produk 2. Rasanya yang segar 3. Kemasan 4. Kesesuaian dengan spesifikasi
c. Promosi (X3)
Promosi menggambarkan penilaian konsumen terhadap iklan pocari sweat, indikator-indikator promosi antara lain: 1. Kuantitas penayangan iklan 2. Promosi yang menarik
d. Keputusan pembelian(Y)
Keputusan pembelian adalah serangkaian unsur-unsur yang mencerminkan keputusan konsumen dalam membeli. Pada tahap ini konsumen dihadapkan pada suatu pilihan untuk
Hal - 6
melakukan pembelian atau tidak, yang diukur melalui indikator :
1. keyakinan terhadap produk 2. kebutuhan akan suatu produk 3. keinginan membeli produk
3.7 Teknik analisis data
Analisis dalam penelitian ini merupakan analisa kuantitatif, yaitu analisis data yang dinyatakan dalam bentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan atau scoring. Skala yang digunakan adalah skala likert dengan menggunakan alternatif jawaban sebagai berikut: 1 = STS ( Sangat Tidak Setuju ) 2 = TS (Tidak Setuju ) 3 = N ( Netral ) 4 = S ( Setuju ) 5 = SS (Sangat Setuju ) Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Uji Validitas
Validitas sebuah alat ukur ditunjukan dari kemampuannya mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk mengukur validitas kuesioner yang diberikan kepada responden maka digunakan koefisien korelasi product moment dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS (Statistical Package for Social Science) dan menggunakan tingkat signifikan ≤ 0,05 (Suliyanto, 2006, h.156).
2. Uji Reliabilitas
Pengertian reliabilitas pada dasarnya adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Untuk mengetahui kuesioner tersebut sudah reliable akan dilakukan pengujian reliabilitas kuesioner dengan bantuan computer program SPSS. Metode pengambilan keputusan pada uji reliabilitas biasanya menggunakan batasan 0,6 yang artinya suatu variabel dikatakan reliable jika nilai Alpha cronbach lebih besar dari 0,6 (Duwi Priyatno, 2010, h.32).
3. Analisis regresi berganda
Analisis regresi berganda dilakukan terhadap model lebih dari satu variabel bebas,untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel terikat. Pada penelitian ini menggunakan alat bantu program SPSS untuk mempermudah proses pengolahan data-data penelitian dari program tersebut akan didapatkan output berupa hasil pengolahan dari data yang telah dikumpulkan, kemudian output hasil pengolahan data tersebut diinterprestasikan akan dilakukan analisis terhadapnya. Persamaan regresi berganda yaitu sebagai berikut (Duwi Priyatno, 2010, h.82) : Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y : Keputusan pembelian b0 : Konstanta b : Koefisien regresi X1 : Harga X2 : Kualitas produk X3 : Promosi
4. Analisis Koefisien Determinasi
Analisis R2 (R Square) atau koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar persentase sumbangan pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Duwi Priyatno, 2010, h.83). Rumus koefisien determinasi sebagai berikut: KD = R2x 100%
Hal - 7
Dimana :
KD = koefisien determinasi
R2 = kuadrat koefisien korelasi
5. Uji Hipotesis
a. Uji F
Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini pengujian hipotesis secara simultan dimaksudkan untuk mengukur besarnya pengaruh harga, kualitas produk, dan promosi secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian.
b. Uji t
Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen yaitu harga, kualitas produk, dan promosi secara parsial terhadap variabel dependennya yaitu keputusan pembelian.
4. PEMBAHASAN
Harga dalam penelitian ini menunjukkan hasil yang positif dan tidak signifikan terhadap keputusan pembelian, ini dapat dilihat dari hasil output analisis regresi berganda dan uji t. Hasil tersebut sesuai dengan keputusan strategis yang diambil oleh manajemen bahwa Pocari Sweat tidak bersaing dari segi harga namun dari segi nilai dan manfaat produk. Walaupun banyak pesaing yang menawarkan harga yang relatif lebih murah dibandingkan Pocari Sweat, namun Pocari Sweat tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar minuman isotonik di Indonesia sampai saat ini.
Kualitas produk dalam penelitian menunjukan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, ini berarti bahwa produk yang semakin berkualitas akan berpengaruh terhadap keputusan pembelian Pocari Sweat. Hal ini dapat dilihat dari hasil output analisis regresi berganda dan uji t. Kualitas mempunyai dampak langsung pada kinerja produk atau jasa, oleh karena itu kualitas berhubungan erat dengan nilai dan kepuasan pelanggan. Dengan tercapainya kepuasan pelanggan maka dapat membentuk penilaian positif sehingga mendorong konsumen untuk tetap berkeinginan melakukan keputusan pembelian pada produk tersebut.
Promosi dalam penelitian menunjukan pengaruh yang positif tetapi tidak signifikan terhadap keputusan pembelian, ini berarti bahwa promosi yang semakin tinggi tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian Pocari Sweat. Hal ini menunjukan adanya kemungkinan faktor-faktor selain promosi yang berpengaruh pada keputusan pembelian seperti citra merek, faktor sosial, faktor budaya, faktor pribadi, dan faktor psikologis yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Pocari Sweat juga tidak menggunakan promosi seperti pemotongan harga, diskon , bonus dan sebagainya sehingga promosi tidak mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian. Promosi yang diteliti dalam penelitian ini adalah kuantitas dan pengaruh penayangan iklan serta kuantitas program promosi dari pocari sweat. Hal ini didukung oleh analisis regresi berganda dan uji t. Walaupun promosi tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap Pocari Sweat, diharapkan dengan promosi yang baik dapat menjadi sarana komunikasi perusahaan untuk memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat luas yang sebagian masih belum mengetahui keberadaan perusahaan dan mendidik para
Hal - 8
konsumen agar mereka lebih efektif dan mengerti dalam memanfaatkan produk-produk perusahaan sehingga konsumen dapat tertarik dan mencoba produk Pocari Sweat (Morissan, 2010, h.39). Dalam penelitian ini harga, kualitas produk, dan promosi secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil penelitian ini didukung oleh hasil output data yang terdapat pada uji F . Hasil penelitian ini juga mendukung hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa harga, kualitas produk dan promosi secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Kemudian pada hasil koefisien determinasi menunjukan adanya pengaruh harga, kualitas produk, dan promosi pada keputusan pembelian sebesar 30,1%, sedangkan sisanya sebesar 69,9% keputusan pembelian kemungkinan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti saluran distribusi, kekuatan merek, faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi, dan faktor psikologis yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kemungkinan faktor lain ini didukung oleh pendapat Kotler (2009, h.166) yang menyatakan bahwa selain harga, kualitas produk dan promosi; distribusi, faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis juga memegang peranan penting dalam mempengaruhi keputusan pembelian. Kekuatan citra merek juga menjadi faktor yang penting dalam mempengaruhi keputusan pembelian, ini didukung oleh hasil penelitian terdahulu M. Rhendria Dinawan (2010) yang menyatakan bahwa citra merek mempunyai pengaruh paling kuat terhadap keputusan pembelian.
5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel harga, kualitas produk, dan promosi terhadap keputusan pembelian produk minuman Pocari Sweat di Palembang. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
a. Harga, kualitas produk dan promosi secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada produk minuman berisotonik Pocari Sweat.
b. Kualitas produk merupakan faktor yang paling berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada produk minuman berisotonik Pocari Sweat.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka diajukan saran-saran sebagai berikut:
1. Perusahaan disarankan untuk terus meningkatkan kualitas produk, melanjutkan kegiatan promosi yang telah ada, dan selalu berinovasi pada produknya seperti menambahkan warna, rasa, dan vitamin pada minuman, akan tetapi harus didukung dengan riset pemasaran dalam strategi pemasarannya agar dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen yang bermacam-macam dan selalu berubah, meningkatkan brand awareness konsumen pada produk, mendorong konsumen untuk mencoba dan melakukan pembelian produk, membentuk citra merek yang positif dalam jangka panjang bagi produk, serta menimbulkan loyalitas konsumen.
2. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini terutama pada indikator warna cairan minuman Pocari Sweat terhadap kualitas produk dan menambahkan variabel-
Hal - 9
variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Thamrin dan Francis Tantri 2012, Manajemen Pemasaran, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Dinawan, M Rhendria 2010, Tesis Program Studi Magister Manajemen Universitas Diponegoro, Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian, (diakses tanggal 28 Agustus 2012) dari http://eprints.undip.ac.id/23755/1/M_Rhendria_Dinawan.pdf Ghozali, Imam 2005, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Kotler, Philip dan Gary Armstrong 2008, Prinsip-prinsip Pemasaran, Erlangga, Jakarta. Kotler, Philip dan Keller, Kevin Lane 2009, Manajemen Pemasaran, Erlangga, Jakarta. M.A, Morissan 2010, Periklanan, Kencana, Jakarta. Nitisusastro, Mulyadi 2012, Perilaku Konsumen dalam Perspektif Kewirausahaan, Alfabeta, Bandung.
Priyatno, Duwi 2010, Teknik Mudah dan Cepat Melakukan Analisis Data Penelitian dengan SPSS dan Tanya Jawab Ujian Pendadaran, Gava Media, Yogyakarta.
Purwanto, Asih 2008, Skripsi FE Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengaruh Kualitas Produk, Promosi dan Desain Terhadap Keputusan Pembelian Kendaraan Bermotor Yamaha Mio, (diakses tanggal 30 Agustus 2012) dari http://etd.eprints.ums.ac.id/1901/1/B100030179.pdf Sarwono, Jonathan 2008, Riset Bisnis, Andi, Yogyakarta. Sekaran, Uma 2006, Metodologi Penelitian untuk Bisnis Buku 2, Salemba Empat, Jakarta. Sugiono 2008, Metode penelitian bisnis, Alphabetha, Bandung. Suliyanto 2006, Metode Riset Bisnis, Andi, Yogyakarta. Sunyoto, Danang 2012, Dasar-dasar Manajemen Pemasaran, CAPS, Yogyakarta. Tjiptono, Fandy 1997, Strategi Pemasaran, Andi, Yogyakarta.
Wijayanti, Endang 2006, Jurnal Universitas Diponegoro Semarang, Pengaruh Harga dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Toyota Kijang, (diakses tanggal 30 Agustus 2012) dari http://eprints.undip.ac.id/13888/1/D2D002211_ENDANG_WIJAYANTI.pdf

sumber  : http://eprints.mdp.ac.id/747/1/jurnal%202009200041%20wanda%20getrycia.pdf
Nama: RISNANDAR
NPM: 16212478

Jumat, 13 Maret 2015

hobi menjadi bisnis

Hobi Menjadi Bisnis
          
momo
  Hobi adalah kesenangan seseorang yang tak bisa di halangi. Bagi saya, hobi itu hal yang bisa membuat stress hilang. Hal ini terjadi bagi diri saya sendiri. Dari kecil hobi saya senang dengan binatang yang lucu seperti kucing. Kucing adalah binatang yang bisa membuat saya senang, karena kelakuannya yang sangat menggemaskan. Pada saat saya sekolah dasar, setiap pulang sekolah saya sering membawa anak kucing dari pinggir jalan ke rumah, sampai-sampai saya selalu di marahi oleh ibu saya karena di anggap kucing itu kotor dan banyak virus yang membahayakan bagi manusia. Tapi omelan demi omelan yang keluar dari mulut ibu saya, tak di dengar oleh saya. Seakan-akan omelan ibu saya dianggap sebagai angin yang berhembus dan hilang begitu saja. Saya mempunyai 2 orang kaka. Pada saat saya beranjak SMP, teman kaka saya ada yang suka melihara kucing. Pada saat itu, dia akan dinas keluar kota dan bingung mengarawat kucing di rumahnya dan akhirnya di berikan kepada tetangga dan teman- temannya. Dia yang bernama Putri menawarkan kepada kaka saya untuk memelihara kucing tersebut karena dia tau adiknya suka dengan kucing. Keesokan harinya, kaka saya menawarkan saya kucing temannya tersebut tetapi tidak dibolehkan sama ibu saya. Karena saya sangat suka kucing, saya bujuk-bujuk ibu saya untuk menyetujui memelihara kucing itu dan pada akhirnya persetujuan saya dikabulkan dengan syarat saya harus mendapatkan nilai bagus di sekolah.

sparkles
            Sudah 1 tahun memelihara kucing, kucing tersebut hilang karena pintu belakang rumah saya agak sedikit terbuka. Saya pun sudah mencarinya tetapi tidak ketemu. Ibu dan ayah saya menyuruh saya untuk focus kepelajaran sekolah karena akan menghadapi ujian nasional untuk melanjutkan SMA. Alhamdulillah saya mendapatkan sekolah negeri yang cukup popular dan bagus yaitu SMAN 3 Depok. Setelah saya di terima disekolah tersebut, ibu saya menawarkan hadiah dan saya meminta dibelikan kucing Persia untuk menggantikan kucing yang hilang waktu itu. Ibu saya membolehkan. Saya pun langsung membelinya di peternak kucing yang bernama mba Gita. Dari situ saya belajar cara melihara kucing Persia dengan benar, karena saya sebelumnya kurang begitu paham memelihara kucing, sebatas hobi pelihara saja. Setelah 3tahun berjalan kucing saya pun mempunyai anak dan saya tidak jual. Tetapi, semakin banyak kucing yang dipelihara, semakin besar juga uang yang dikeluarkan untuk membeli makanannya. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak jual saja anak yang dilahirkan oleh induknya tersebut. Dan akhrnya saya menjual anak kucing itu ke orang yang suka dengan kucing juga. Dari situ saya mengambil kesimpulan, dengan hobi saya yang suka melihara kucing, bisa menjadi bisnis sampingan saya dirumah. Dari kucing jenis Himalaya yang bernama cumay, ragdoll yang bernama momo, pesia peaknose yang bernama momo saja pelihara untuk memuaskan hobi saya dan dilain sisi untuk pemasukan dana agar bisa ditabung. Ada salah satu orang yang membeli kucing saya dan mengajak saya untuk masuk ke komunitas kucing yang bernama D’JABOERS. Komunitas itu khusus kucing yang setiap hari minggu pada kopdar di depan stadion UI depok. Banyak hal yang bermanfaat di komunitas tersebut seperti banyakya link yang di peroleh untuk menjual dan memelihara. Group tersebut selalu terbuka untuk semua orang yang suka kucing. Semakin banyak orang yang kita kenal, semakin banyak juga informasi yang kita dapat. Sampai sekarang saya masih memelihara kucing Persia yang saya gemari karena bulunya yang lebat dan hidungnya yang pesek. 

Senin, 30 Juni 2014

Politik Dan Strategi Nasional

POLITIK DAN STRATEGI NASIONAL

A.    Pengertian Politik
Politik adalah pembentukan keukuasaan dalam masyarakat dalam membuat suatu keputusan untuk negara. Politik juga diartikan sebagai seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional dan nonkonstitusional. Kata politik berasal dari bahasa Belanda “politiek” dan bahasa ingggris “politics” yang bersumber dari bahasa Yunani τα πολιτικά .
Pengertian politik menurut beberapa ahli :
1. Menurut Andrew Heywood
Politik adalah kegiatan suatu bangsa yang memiliki tujuan untuk mempertahankan dan menjalankan peraturan yang ada untuk patokan hidupnya.
2. Menurut Carl Schmdit
Politik adalah suatu dunia yang didalamnya orang-orang lebih membuat keputusan-keputusan dari lembaga-lembaga abstrak
3. Berdasarkan teori klasik Aristoteles politik adalah usaha yang ditempuh warga untuk mewujudkan kebaikan bersama.
Adapun lembaga-lembaga politik yang berati seperangkat norma yang melaksanakan dan memiliki kekuasaan atau wewenang dalam suatu bidang yang khusus. Lembaga politik meliputi eksekutif , legislatif dan yudiktif, keamanan dan pertahanan nasional serta partai politik. Setiap lembaga memiliki ketua untuk mengatur lembaganya masing-masing. Berikut ini proses pembentukan lembaga politik :
1.       Mengadakan kegiatan yang dapat mewakili aspirasi masyarakat
2.       Pembentukan tentara nasional dari suatu negara merdeka dengan pasrtisipasi dari berbagai golongan yang mewakili masyarakat
Fungsi lembaga politik adalah :
1.       Menjaga keamanan dan katahanan masyarakat
2.       Melaksanakan kesejahteraan umum
3.        Sebagai jembatan penyampaian aspirasi dari masyarakat ke pemilik kebijakan Negara.
4.        
B. Strategi Nasional
Strategi nasional adalah perencanaan dan memutuskan sesuatu untuk kepentingan negara. Kata strategi sendiri berasal dari bahasa Yunani stratēgos. Politik dan strategi pertahanan nasional harus berjalan selaras. Strategi nasioanal dirancang untuk menjawab kepentingan nasional negara tersebut. Setiap strategi di masing-maisng negara berbeda karena kebijakan dan kebutuhan masyarakat disetiap negar berbeda-beda satu sama lainnya. Sebagai salah satu negara berdaulat dan bermartabat, tentunya Indonesia harus memiliki strategi besar yang dapat menjamin tercapainya segala kepentingan nasional guna mewujudkan tujuan nasional menciptakan masyarakat adil dan makmur.
Penyusunan politik dan strategi nasional perlu memahami pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam sistem manajemen nasional yang berlandaskan ideologi Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional.
Dikutip dari Letkol Laut (P) Erwin S. Aldedharma, Komandan KRI Nala Khusus di bidang pertahanan negara, terkesan saat ini belum adanya keseragaman pola sikap dan pola tindak dalam lingkup Departemen Pertahanan, termasuk di jajaran TNI. Walaupun Undang-undang Pertahanan menyatakan bahwa strategi pertahanan negara disusun berdasarkan kondisi geografis bangsa, namun implementasi di lapangan masih sepertinya mengedepankan strategi pertahanan semesta, di mana dalam menghadapi kekuatan lawan, militer Indonesia masih berorientasi pada taktik perang gerilya. Artinya, musuh akan ditunggu hingga masuk dan menginjakkan kaki ke wilayah daratan Indonesia, yang mana berarti pula bahwa rakyat akan ikut terlibat dalam perang. Bukan berarti bahwa strategi pertahanan semesta merupakan sesuatu yang keliru, karena sejarah membuktikan bahwa dengan strategi tersebut bangsa ini berhasil merebut dan mempertahankan kemerdekaannya melawan penjajah. Namun dengan perkembangan situasi politik, hukum dan teknologi era sekarang, strategi itu hendaknya tidak ditempatkan sebagai strategi utama, karena hukum internasional melarang keterlibatan rakyat (non kombatan) dalam perang. Sebaliknya, Indonesia harus mampu mencegah musuh masuk ke wilayahnya, sehingga mewajibkan kita mempunyai militer yang memiliki daya pukul dan daya hancur cukup besar serta dapat dikerahkan hingga jauh ke batas terluar yurisdiksi nasional. Bertolak dari pemikiran demikian dan dikaitkan dengan kondisi geografis Indonesia, sudah sewajarnya bila fokus pembangunan kekuatan militer terletak pada Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
Sudah jelas sekali bahwa peran pelaku-pelaku politik sangat mempengaruhi strategi negara dalam mempertahankan keamanan dan kesejahteraan masyarakat di dalam negara Indonesia.

Sumber :
http://makalahhubinternasional.blogspot.com/2010/11/mencari-strategi-pertahanan-bagi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Politik#Teori_politik

http://komkomriah.blogspot.com/2013/03/lembaga-politik.html

Kamis, 19 Juni 2014

Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia

Ketahanan Nasional Bangsa Negara Indonesia
Hakikat pertahanan negara adalah segala upaya pertahanan bersifat semesta yang penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban warga negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri.
Pertahanan negara dilakukan oleh pemerintah dan dipersiapkan secara dini dengan sistem pertahanan negara.
Pertahanan nasional merupakan kekuatan bersama (sipil dan militer) diselenggarakan oleh suatu Negara untuk menjamin integritas wilayahnya, perlindungan dari orang dan/atau menjaga kepentingan-kepentingannya. Pertahanan nasional dikelola oleh Kementerian Pertahanan. Angkatan bersenjata disebut sebagai kekuatan pertahanan dan, di beberapa negara (misalnya Jepang), Angkatan Bela Diri.
Dalam bahasa militer, pertahanan adalah cara-cara untuk menjamin perlindungan dari satu unit yang sensitif dan jika sumber daya ini jelas, misalnya tentang cara-cara membela diri sesuai dengan spesialisasi mereka, pertahanan udara (sebelumnya pertahanan terhadap pesawat: DCA), pertahanan rudal, dll. Tindakan, taktik, operasi atau strategi pertahanan adalah untuk menentang/membalas serangan.
Komponen pertahanan[sunting | sunting sumber]
Di Indonesia, sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan Tentara Nasional Indonesia sebagai "komponen utama" dengan didukung oleh "komponen cadangan" dan "komponen pendukung". Sistem Pertahanan Negara dalam menghadapi ancaman nonmiliter menempatkan lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur unsur lain dari kekuatan bangsa.

Komponen utama
"Komponen utama" adalah Tentara Nasional Indonesia, yang siap digunakan untuk melaksanakan tugas tugas pertahanan.
Komponen cadangan
"Komponen cadangan" (Komcad) adalah "sumber daya nasional" yang telah disiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemampuan komponen utama.
Komponen pendukung
"Komponen pendukung" adalah "sumber daya nasional" yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama dan komponen cadangan. Komponen pendukung tidak membentuk kekuatan nyata untuk perlawanan fisik.
"Sumber daya nasional" terdiri dari sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya buatan. Sumber daya nasional yang dapat dimobilisasi dan didemobilisasi terdiri dari sumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional yang mencakup berbagai cadangan materiil strategis, faktor geografi dan lingkungan, sarana dan prasarana di darat, di perairan maupun di udara dengan segenap unsur perlengkapannya dengan atau tanpa modifikasi.
Komponen pendukung terdiri dari 5 segmen :
Para militer[sunting | sunting sumber]
Polisi (Brimob) - (lihat pula Polri)
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)
Perlindungan masyarakat(Linmas) lebih dikenal dengan sebutan pertahanan sipil (Hansip)
Satuan pengamanan (Satpam)
Resimen Mahasiswa (Menwa)
Organisasi kepemudaan
Organisasi bela diri
Satuan tugas (Satgas) partai
Tenaga ahli/profesi
Sumber daya manusia sesuai keahlian atau berdasarkan profesi.
Industri
Semua Industri yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kekuatan utama dan kekuatan cadangan dalam menghadapi ancaman.
Sumber daya alam/buatan dan sarana prasarana
Sumber daya alam adalah potensi yang terkandung dalam bumi, air dan dirgantara yang dalam wujud asalnya dapat didayagunakan untuk kepentingan pertahanan negara.
Sumber daya buatan adalah sumber daya alam yang telah ditingkatkan daya gunanya untuk kepentingan pertahanan negara
Sarana dan prasarana nasional adalah hasil budi daya manusia yang dapat digunakan sebagai alat penunjang untuk kepentingan pertahanan negara dalam rangka mendukung kepentingan nasional.
Sumber daya manusia[sunting | sunting sumber]
Sumber daya manusia adalah warga negara yang secara psikis dan fisik dapat dibina dan disiapkan kemampuannya untuk mendukung komponen kekuatan pertahanan keamanan negara.
Seluruh warga negara secara individu atau kelompok, misalnya organisasi masyarakat (seperti: LSM, dsb)

ketahanan nasional
Pengertian ketahanan nasional adalah kondisi dinamika, yaitu suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mampu mengembangkan ketahanan, Kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, hambatan dan ancaman baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Juga secara langsung ataupun tidak langsung yang dapat membahayakan integritas, identitas serta kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Dalam perjuangan mencapai cita-cita/tujuan nasionalnya bangsa Indonesia tidak terhindar dari berbagai ancaman-ancaman yang kadang-kadang membahayakan keselamatannya. Cara agar dapat menghadapi ancaman-ancaman tersebut, bangsa Indonesia harus memiliki kemampuan, keuletan, dan daya tahan yang dinamakan ketahanan nasional.
Kondisi atau situasi dan juga bisa dikatakan sikon bangsa kita ini selalu berubah-ubah tidak statik. Ancaman yang dihadapi juga tidak sama, baik jenisnya maupun besarnya. Karena itu ketahanan nasional harus selalu dibina dan ditingkatkan, sesuai dengan kondisi serta ancaman yang akan dihadapi. Dan inilah yang disebut dengan sifat dinamika pada ketahanan nasional.
Kata ketahanan nasional telah sering kita dengar disurat kabar atau sumber-sumber lainnya. Mungkin juga kita sudah memperoleh gambarannya.
Untuk mengetahui ketahanan nasional, sebelumnya kita sudah tau arti dari wawasan nusantara. Ketahanan nasional merupakan kondisi dinamik yang dimiliki suatu bangsa, yang didalamnya terkandung keuletan dan ketangguhan yang mampu mengembangkan kekuatan nasional.
Kekuatan ini diperlukan untuk mengatasi segala macam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang langsung atau tidak langsung akan membahayakan kesatuan, keberadaan, serta kelangsungan hidup bangsa dan negara. Bisa jadi ancaman-ancaman tersebut dari dalam ataupun dari luar.

KETAHANAN NASIONAL INDONESIA
1. Perkembangan Ketahanan Nasional
Dewasa ini istilah ketahanan nasional sudah dikenal diseluruh Indonesia. Dapat dikatakan bahwa istilah itu telah menjadi milik nasianal. Ketahanan Nasional baru dikenal sejak permulaan tahun 60 an. Pada saat itu istilah itu belum diberi devenisi tertentu. Disamping itu belum pula disusun konsepsi yang lengkap menyeluruh tentang ketahanan nasional. Istilah ketahanan nasional pada waktu itu dipakai dalam rangka pembahasan masalah pembinaan ter itorial atau masalah pertahanan keamanan pada umumnya.
Walaupun banyak instansi maupun perorangan pada waktu itu menggunakan istilah ketahanan nasional, namun lembaga yang secara serius dan terus-menerus mempelajari dan membahas masalah ketahanan nasional adalah lembaga pertahanan nasional atau lemhanas. Sejak Lemhanas didirikan pada tahun 1965, maka masalah ketahanan nasional selalu memperoleh perhatian yang besar.
Sejak mulai dengan membahas masalah ketahanan nasional sampai sekarang, telah dihasilkan tiga konsepsi.Pengertian atau devenisi pertama Lemhanas, yang disebut dalam konsep 1968 adalah sebagai berikut :
Ketahanan nasional adalah keuletan dan daya tahan kita dalam menghadapi segala kekuatan baik yang datang dari luar maupun dari dalam yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan hidup Negara dan bangsa Indonesia.
Pengertian kedua dari Lemhanas yang disebut dalam ketahanan nasional konsepsi tahun 1969 merupakan penyempurnaan dari konspsi pertama yaitu :
Ketahanan nasional adalah keuletan dan daya tahan suatu bangsa yang mengandung kemampuan untuk memperkembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala ancaman baik yang datang dari luar maupun yang datang dari dalam yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan hidup Negara Indonesia.
Ketahanan nasional merupakan kodisi dinamis suatu bangsa, berisi keuletan dan ketangguahan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional,didalam menghadapi didalam menghadapi dan mengisi segala tantangan, ancaman ,hambatan, serta gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas,identitas , kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta perjuangan mengejar perjuangan nasional.
Apabila kita bandingkan dengan yang terdahulu, maka akan tampak perbedaan antara lain seperti berikut :
a. Perumusan 1972 bersifat universal, dalam arti bahwa rumusan tersebut dapat diterapkan dinegara-negara lain, terutama di Negara-negara yang sedang berkembang.
b. Tidak lagi diusahakan adanya suatu devenisi, sebagai gantinya dirumuskan apa yang dimaksud kan dengan istilah ketahanan nasional.
c. Jika dahulu ketahanan nasional di identikkan dengan keuletan dan daya tahan , maka ketahanan nasional merupakan suatu kondisi dinamis yang berisikan keuletan dan ketangguhan, yang berarti bahwa kondisi itu dapat berubah.
d. Secara lengkap dicantumkan tantangan, ancaman , hambatan, serta ganguan.
e. Kelangsungan hidup lebih diperinci menjadi integritas, identitas, dan kelangsungan hidup.
Dalam pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia Jendral Suharto di depan siding DPR tanggal 16 Agustus 1975, dikatakan bahwa ketahanan nsional adalah tingkat keadaan dan keuletan dan ketangguhan bahwa Indonesia dalam menghimpun dan mengarahkan kesungguhan kemampuan nasional yang ada sehingga merupakan kekuatan nasional yang mampu dan sanggup menghadapi setiap ancaman d an tantangan terhadap keutuhanan maupun kepribadian bangsa dan mempertahankan kehidupan dabn kelangsungan cita-citanya.
Karena keadaan selalu berkembang serta bahaya dan tantangan selalu berubah, maka ketahanan nasional itu juga harus dikembangkan dan dibina agar memadai dengan perkembangan keadaan. Karena itu ketahanan nasional itu bersift dinamis, bukan statis.
Ikhtiar untuk mewujudkan ketahanan nasional yang kokoh ini bukanlah hl baru bagi kita. Tetapiu pembinaan dan peningkatannya sesuai dengan kebutuhan kemampuan dan fasililitas yang tersedi pula.
Pembinaan ketahanan nasional kita dilakukan dipelgai bidang : ideology , poluitik, ekonomi , sosial budaya dan hankam, baik secara serempak maupun menurut prioritas kebutuhan kita.
2. Perwujudan Ketahanan Nasional Indonesia dalan Trigarta
Untuk memberi gambaran umum tentang Indonesia, marilah kita membahasas dahulu dar segi aspek-aspek alamiah atau Trigatra dengan mulai meninjau :
a. Aspek lokasi dan posisi Geografis Wilayah Indonesia
Jikalau kita melihat letak geografis wilayah Indonesia dalam peta dunia, maka akan nampak jelas bahwa wilayah Negara tersebut merupakan suatu kepulauan, yang menurut wujud kedalam, terdiri dari daerah air dengan ribuan pulau-pulau didalamnya. Yang dalam bahasa asing bisa disebut sebagai suatu archipelago kelvar, kepulauan itu merupakan suatu archipelago yang terletak antara benua Asia disebelah utara dan benua Australia disebelah selatan serta samudra Indonesia disebelah barat dan samudra pasifik disebelah timr.
Berhubungan letak geografis antara dua benua dan samudra yang penting itu, maka dikatakan bahwa Indonesia mempunyai suatu kedudukan geograpis ditengah tengah jalan lalu lintas silang dunia. Karena kedudukannya yagn strategis itu, dipandang dari tiga segi kesejahtraan dibidang politik, ekonomi dan sosial budaya Indonesia telah banyak mengalami pertemuan dengan pengaruh pihak asing (akulturasi).
Menurut catatan Indonesia terdiri dari wilayah lautan dengan 13.667 pulau besar dan kecil, diperkirakan 3.000 pulau diantaranya yang dialami penduduk.

Luas pulau-pulau diperkirakn 735.000 mil persegi, sedangkn luas perairannya ditaksir 3 sampai 4 kali luas tanah (pulau-pulau). Jarak antara ujung barat sampai ujung timur adalah kira-kira 3.200 mil.

sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Pertahanan_negara
http://khairulchaniago.wordpress.com/pengertian-arti-definisi-ketahanan-nasional-bangsa-negara-indonesia/